Ketergantungan akan gadget membuat jumlah gen-z atau remaja yang mengalami gangguan kejiwaan, makin meningkat. Baru baru ini Dokter Kejiwaan Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainuddin Surakarta, dr. Betty Hidayati, mengatakan, ada 10-15 persen tambahan jumlah pasien remaja yang datang ke rumah sakit tersebut.
Betty mengakui, kecanduan gadget, menjadi salah satu pemicu naiknya angka itu. Rutinitas memakai gadget, disebut dr Betty membuat remaja menjadi makin antisosial.
“Aktivitas sama orang berkurang. Karena tidak terbiasa berinteraksi, mereka akhirnya tidak biasa mendapat penolakan. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka cenderung mengalami rasanya ditolak, tidak berguna, tidak dianggap,” kata Betty, di sela acara Sosialisasi Kesehatan : Anakku Tumbuh Selaras Jiwa, Rabu (29/10/2025).
Yang mengkhawatirkan, jumlah bertambahnya pasien remaja di RSJ Solo, tak bisa mencerminkan jumlah remaja yang mengalami masalah mental.
Adanya stigma negatif, yang menyebut kalau ke dokter jiwa atau psikiater adalah orang gila, membuat mereka malu untuk periksa. Kondisi ini membuat banyak remaja yang sudah mengalami gangguan jiwa tidak terdeteksi, sehingga membuat kondisinya semakin parah.
“Saya merasa di luar sana masih banyak yang bermasalah dengan mentalnya. Kadang-kadang lingkungan tidak aware. Orang tua juga sibuk sendiri,” tambah Betty.
Sebuah ancaman serius bagi gen Z akibat dampak dari kemajuan Teknologi Informasi.

Sumber gambar: antaranews.com