Seorang pemuda membagikan perjuangannya dalam mencari kerja setelah dua tahun menganggur lewat akun medsos jadi perhatian. Saat itu ia mengaku masih berpegang pada idealismenya sebagi sarjana S1 dalam mencari pekerjaan. Di tahun pertama pasca diwisuda. Ia hanya ingin mengambil pekerjaan yang memenuhi semua standar pribadi yang sudah ia tetapkan.
“Nyong pan milih gawean sing nyong pengen. Ari soal gaji, lokasi, akses, posisi, benefit dll. Intine nyong sombong pas kuwe ” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Setahun berlalu tanpa pekerjaan membuat idealismenya perlahan memudar menghadapi realita. Ia mulai introspeksi dan menurunkan standar dan mencoba memahami situasi, meski hasilnya tetap belum menunjukkan perkembangan berarti. Melihat teman-teman seusianya makin berkembang membuatnya merasa burn out dan stres berat. Sementara orang lain kebingungan memilih tawaran kerja, ia bahkan tak punya satu pun kesempatan.
Memasuki 1,5 tahun tanpa pekerjaan, ia mulai menurunkan semua standar ideal yang sebelumnya ia pegang. Ia mencoba berbagai posisi, meski gaji, lokasi, dan akses pekerjaan meski tak cocok. Tekanan finansial mendorongnya mencari cara lain untuk tetap punya penghasilan. Ia memulai usaha serabutan kecil-kecilan di rumahnya meski cliennya hanya kenalan, namun bersyukur masih ada pemasukan sedikit.
Meski sudah tidak berharap banyak, ia tetap rutin melamar pekerjaan tanpa ekspektasi tinggi. Setiap lamaran dikirim hanya sebagai bentuk usaha sambil berdoa dan pasrah dengan hasilnya.
Hingga tiba-tiba, tepat di bulan ke-24 masa menganggurnya, ia menerima pesan WA dari HRD sebuah perusahaan besar. Saat mengecek riwayat lamaran, ia baru sadar sebelumnya pernah ditolak di perusahaan yang sama.

Ia awalnya tidak yakin akan diterima, sehingga saat mengisi ekspektasi gaji, ia memasukkan angka kecil asal-asalan yang bagi perusahaan tersebut tidak sesuai dengan aturan korporasi karena terlalu kecil angkanya. Dia menulis angka kecil karena merasa belum punya pengalaman kerja. Langkah itu dilakukan tanpa berharap terlalu banyak, hanya sebagai percobaan semata. “Karna gak yakin bakalan diterima, jadi saat isi ekspetasi gaji gue masukin angka kecil dibawah UMR saja,” ungkapnya. Setelah melalui proses rekrutmen dan seleksi yang panjang, ia tak menyangka berhasil melewati semua tahapan dengan lancar dan dinyatakan lulus.
Tak tanggung-tanggung, gaji dan benefit yang awalnya diisi asal-asalan ternyata malah dianggap terlalu rendah bagi perusahaan/korporasi tersebut. Jadi dia akhirnya digaji sesuai aturan perusahaan yang ternyata jauh lebih besar dari angka yang diminta.
Kabar diterimanya pekerjaan datang tepat sebulan sebelum ulang tahunnya, menjadi hadiah yang sangat berharga setelah perjuangan panjang. Momen itu membuatnya merasa bersyukur dan lega atas akhir perjalanan yang penuh liku. Sejumlah warganet ikut menanggapi kisah perjuangannya dengan penuh haru dan dukungan. Mereka menyemangati pemuda itu serta mendoakan kelancaran rejekinya dan sukses meniti karier.